Beberapa Kemungkaran Ziarah Kubur

Secara bahasa ‘ziarah kubur’ tersusun atas dua kata yaitu ‘ziarah’ yang artinya berkunjung dan ‘kubur’ yang bermakna liang lahat. Adapun secara istilah ziarah kubur  adalah berkunjung atau datang ke pemakaman dengan tujuan mendoakan kebaikan bagi si mayat seperti memintakan maghfiroh (ampunan) untuknya, serta mengingat kematian dan akhirat bagi si pengunjung.

Kronologis Hukum Ziarah Kubur

 a. Larangan untuk Ziarah Kubur

Jika kita kembali menengok lembaran sejarah Islam, maka akan kita dapati pada masa awal penyebarannya, Islam melarang umatnya untuk ziarah kubur. Hal ini disebabkan kaum Muslimin ketika itu belum menghayati Islam dengan sebenar-benarnya. Rosululloh  mengerti betul bagaimana latar belakang para sahabatnya sebelum masuk Islam, ia   tidak ingin setelah para sahabatnya masuk Islam tergelincir dari tauhid. Karena hal ini bertentangan dengan dakwah tauhid yang ia seru. Maka dari itulah Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang ziarah kubur sebagai tindakan preventif.

Salah seorang ulama berkata kenapa ziarah awalnya di larang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Karena kala itu ziarah kubur merupakan ajang berbuat syirik penduduk Musyrikin Mekkah, juga hal itu merupakan perbuatan yang dengannya mereka saling berbangga-banggaan, dan tempat mereka meratap.”

Seorang ulama hadits berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang para sahabat untuk ziarah kubur karena dikhawatirkan para sahabat akan tergelincir kembali kepada kesyirikan setelah selamat darinya dan para sahabat kala itu baru masuk Islam dan iman mereka belum mantap. Demi menjaga iman yang baru bersemi karenanya Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang mereka untuk ziarah kubur. Kemudian setelah mereka hijrah dan iman mereka mantap barulah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kembali para sahabat untuk ziarah kubur.” (Ahkam al Janaiz, hal. 183).

b. Perintah untuk Ziarah Kubur

Seiring bertambah kuatnya penghayatan keIslaman dan keimanan para sahabat, maka Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun mensyariatkan ziarah kubur, sebagaimana sabdanya,

إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

 “Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” (HR. Muslim, Abu Dawud, al Baihaqi, an Nasa’i, dan Ahmad).

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلاَ فَزُورُوهَا

“Pada awalnya aku melarang kalian untuk menziarahi kuburan, sekarang ziarahilah!” (HR. Muslim, Ahmad, al Hakim, at Tirmidzi, Abu Daud dan dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shohih al Jami’).

Namun di waktu yang sama juga Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi tahukan hikmah ziarah kubur; yaitu untuk mengingat kematian dan akhirat, melunakkan hati yang keras serta mengucurkan air mata. Sebagaimana sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلاَ فَزُورُوهَا ، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ ، وَلاَ تَقُولُوا هُجْرًا

“Pada awalnya aku melarang kalian untuk menziarahi kuburan, sekarang ziarahilah!, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat melunakkan hati, mencucurkan air mata, mengingat akhirat, dan janganlah kalian mengatakan al hujr (perkataan mungkar)” (HR. Muslim, Ahmad, al Hakim, at Tirmidzi, Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shohih al Jami’).

c. Peringatan

Sekalipun dakwah Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah tertanam dengan kuat dalam dada-dada kaum Muslimin, keimanan mereka pun ibarat besi berlapis baja, dan Islam telah menerangi seluruh jazirah Arab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam masih memperingatkan umatnya dari kemungkaran yang bisa terjadi dalam ziarah kubur seperti menjadikan kuburan sebagai masjid atau tempat ibadah, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga Alloh melaknat Yahudi dan Nashoro karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid.” (HR. al Bukhori dan Muslim).

Ketika mengomentari hadits diatas al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam khawatir kalau kuburannya diagungkan sebagaimana yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, maka beliau melaknat Yahudi dan Nashroni sebagai isyarat akan tercelanya orang yang berbuat seperti perbuatan mereka.” (Fathul Bari, 1/634).

Dalam hadits yang cukup panjang beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda,

“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kalian semua menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu”. (HR. Muslim).

Hadits-hadits diatas dan yang semisalnya menjelaskan bahaya menjadikan kuburan sebagai masjid sekaligus larangan mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan sebagai masjid atau tempat ibadah.

Madzhab yang empat pun telah bersepakat bahwa mengambil kuburan sebagai masjid adalah dosa besar, berikut perkataan mereka;

1. Madzhab Syafi’I; Ibnu Hajar al Haitami berkata dalam kitabnya az Zawajir, “Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 yaitu mengambil kuburan sebagai masjid, menyalakan lampu dikuburan, menjadikannya sebagai berhala, tawaf disekelilingnya, menusap-usap kuburan dan sholat menghadapnya..” (az Zawajir, 1/120)

Pendapat ini di kuatkan oleh al Alusy dalam Ruh al Ma’ani dan Imam an Nawawi dalam al Majmu’. Bahkan menurut an Nawawi ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyah.

2. Madzhab Hanafi; Imam Muhammad, salah seorang murid senior Abu Hanifah berkata, “Kami membenci kuburan itu dikapur atau di beri tanah liat, atau di bangun disisi masjid.” (al Atsar, 45)

Pendapat ini dikuatkan oleh ulama lainnya seperti Ibnu al Malik dari kalangan madzhab Hanafiyah.

    3. Madzhab Maliki; Salah seorang ulama tafsir dari kalangan Maliki, yaitu Imam al Qurthubi berkata, “Berkata ulama kami (Malikiyah), ‘Haram atas kaum Muslimin untuk menjadikan kuburan nabi dan ulama sebagai masjid’.” (Tafsir ath Thobari, 10/38)

    4. Madzhab Hambali; Disebutkan dalam salah satu kitab rujukan madzhab Hambali, bahwa haram menjadikan kuburan sebagai masjid, lebih dari mereka berpendapat batalnya sholat di dalam masjid yang ada kuburannya. (lihat kitab Syarah Muntaha).

d. Kemungkaran

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak hanya memerintahkan untuk ziarah kubur, namun beliau juga memperingatkan kemungkaran yang bisa terjadi di dalamnya yang sewaktu-waktu bisa menimpa siapa saja dari kaum Muslimin ketika jauh dari tuntunan wahyu Ilahi, sebagaimana yang menimpa kaum nabi Nuh.

Peringatan dini yang Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tujukan kepada umatnya merupakan peringatan yang terkandung di dalamnya pencegahan sekaligus penutupan celah-celah kesyirikan. Karena ketergelinciran yang menimpa kaum nabi Nuh mulanya adalah pengagungan yang berlebihan terhadap kuburan orang-orang sholih. Awalnya kaum nabi Nuh kagum dan simpatik akan kesholihan mereka dengan menjadikan kuburan mereka sebagai tempat ibadah, lama kelamaan setan membisikkan kepada mereka agar mereka berbuat lebih jauh dari itu. Hingga akhirnya mereka membuat patung dan menyembahnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan menjadikan kuburan sebagai masjid?

Seorang ulama, Ahmad bin Abdul Halim al Haroni berkata, “Menjadikan kuburan tersebut sebagai masjid adalah menjadikan shalat lima waktu dan ibadah lainnya di tempat tersebut sebagaimana ibadah-ibadah tersebut diadakan di masjid. Jadi tempat yang dijadikan sebagai masjid adalah tempat yang dimaksudkan untuk beribadah pada Allah dan berdo’a kepada-Nya di situ.”

Dalam kesempatan yang lain, beliau Rahimahullah juga berkata,

“Tidak ada silang pendapat di antara para ulama salaf dan ulama-ulama besar yang ada mengenai terlarangnya menjadikan kubur sebagai masjid. Seperti dimaklumi bersama bahwa masjid dibangun untuk shalat, dzikir, dan membaca al Qur’an. Jika kubur difungsikan untuk sebagian ibadah-ibadah tadi, maka ini termasuk dalam larangan menjadikan kubur sebagai masjid.” [Majmu’ Al Fatawa, 24/302]

Fenomena Hari Ini

Setelah sekian lama kemurnian Islam terjaga dan terkawal dengan baik, termasuk didalamnya tentang ziarah kubur, kini perlahan-lahan mulai memudar bahkan mungkin sudah pudar. Kemurnian yang dahulu di sandang oleh Islam, kini hanya kenangan. Kemurnian itu kini sudah tertutupi oleh tebalnya kabut kesyirikan, dan ilalang kebid’ahan.

Sinyalemen Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terbukti, hari ini bisa kita saksikan bagaimana manusia berjubel dengan penuh peluh karena bepergian jauh demi ziarah kubur. Mereka tak segan merogoh uang jutaan bahkan lebih demi menziarahi sang wali yang dikeramatkan.

Hari ini ziarah kubur dimobilisasi oleh kalangan tertentu, dengantujuan menarik simpati masyarakat awam. Berbagai nama dan acara ziarah kubur dikemas serta diramu agar terlihat syar’i, mulai dari kelas yang sifatnya ‘ekonomi’ sampai dengan kelas ‘eksekutif’. Tak peduli rakyat jelata atau pejabat semua tumpah ruah meluber di areal pemakaman.

Tidak hanya satu kuburan yang mereka kunjungi namun banyak sekali, terutama kuburan para wali songo. Dan inilah favorit mereka, sekalipun antara makam satu dengan yang lainnya berjauhan dan bisa beratus-ratus kilo meter jauhnya, bahkan bisa beda propinsi.

Untuk mensukseskan acara ini dirancanglah sebuah program yang seolah-olah Islami, yaitu ‘Wisata Religi’ agar ketika masyarakat mendengarnya mereka akan berasumsi bahwa mengeluarkan uang jutaan rupiah bahkan lebih untuk ziarah kubur ke makam para wali secara bersama-sama atau rombongan adalah bagian dari Islam.

Sesungguhnya melakukan perjalanan jauh dalam rangka menziarahi tempat-tempat yang penuh berkah dilarang dalam Islam kecuali kepada tiga tempat saja sebagaimana sabda Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

“Tidaklah boleh dilakukan perjalanan jauh (untuk menziarahi tempat-tempat yang penuh berkah) kecuali kepada tiga masjid; Masjid al Harom, Masjid rosul , dan Masjid al Aqsho.” (HR. al Bukhori dan Muslim).

Di dalam hadits ini dan yang semisalnya terdapat pengharaman melakukan perjalanan jauh dalam rangka karena tempat itu kecuali terhadap tiga masjid saja, yaitu masjid al Harom, masjid Rosul (nabawi), dan masjid al Aqsho.

Para ulama terdahulu dari kalangan sahabat serta orang-orang sesudahnya telah berijma’ bahwa safar (bepergian jauh) untuk menziarahi kuburan para nabi dan orang-orang solih adalah suatu kebid’ahan yang tidak pernah diperintahkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan Rosul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana pengingkaran yang dilakukan oleh Abu Bashroh al Ghifari ketika ia bertemu dengan Abu Huroiroh yang baru saja kembali dari bukit Thur untuk melaksanakan sholat disana. Ia berkata kepada Abu Huroiroh, “Seandainya aku mengetahuimu sebelum engkau berangkat ke sana, niscaya engkau tidak akan berangkat. Aku mendengar Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”

“Tidaklah boleh dilakukan perjalanan jauh (untuk menziarahi tempat-tempat yang penuh berkah) kecuali kepada tiga masjid; Masjid al Harom, Masjid rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan Masjid al Aqsho.” (HR. ath Thoyalisi).

Hal serupa pun dilakukan oleh Ibnu Umar ketika  mengingkari perbuatan Quz’ah yang hendak pergi ke bukit Thur, ‘Apakah kamu tidak mengetahui bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,’ “Tidaklah boleh dilakukan perjalanan jauh (untuk menziarahi tempat-tempat yang penuh berkah) kecuali kepada tiga masjid; Masjid al Harom, Masjid Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan Masjid al Aqsho.” Tinggalkan bukit Thur dan jangan kamu datangi!. (lihat kitab Akhbar Mekkah).

Dalam menjelaskan hadits di atas, Al Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Ucapan Abu Hurairah: ‘Aku pergi ke bukit Thur’; yang tampak dalam hadits ini bahwa dia tidak pergi ke sana kecuali demi mencari berkah dan shalat di sana”.

Imam Abul Walid Al Baaji ketika menjelaskan dialog antara Abu Basrah dan Abu Hurairah mengatakan: “Ucapan Abu Hurairah: ‘Aku datang dari Bukit Thur’ mengandung dua kemungkinan; mungkin dia ke sana untuk suatu keperluan, atau dia ke sana dalam rangka ibadah dan taqarrub. Sedang ucapan Abu Basrah: ‘Andai saja aku sempat mengetahuimu sebelum kau berangkat, maka kau takkan berangkat’, merupakan dalil bahwa Abu Basrah memahami bahwa tujuan Abu Hurairah ke sana ialah dalam rangka ibadah dan mencari berkah; dan diamnya Abu Hurairah ketika perbuatannya diingkari, merupakan dalil bahwa apa yang dipahami Abu Basrah tadi benar. (Lihat: Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa).

Pengingkaran yang dilakukan oleh para sahabat diatas terhadap mereka yang bepergian jauh dalam rangka beribadah selain terhadap tiga masjid yang disebutkan oleh Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan bukti haramnya perbuatan tersebut.

Semua orang tahu bahwa bukit Thur adalah bukit bersejarah, karena disanalah Nabi Musa ‘Alaihissalam diajak bicara oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan  diangkat menjadi Rosul. Selain itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala pernah mengangkat bukit tersebut ke atas Bani Israil ketika mengambil sumpah setia dari mereka. Lalu di sebelah kanan bukit Thur, Alloh Subhanahu wa Ta’ala  juga pernah mengumpulkan Musa ‘Alaihissalam  beserta Bani Israel setelah Fir’aun dan bala tentaranya binasa. Di bukit itu pula, Musa ‘Alaihissalam memohon untuk bisa melihat Allah namun kemudian jatuh pingsan, dan di sanalah jua Allah menurunkan Taurat kepadanya. Walaupun begitu, tetap saja bepergian ke sana dalam rangka beribadah dan mencari berkah merupakan suatu perbuatan yang menyelisihi syariat.

Ziarah kubur jama’i (secara bersama-sama/rombongan) yang kita saksikan hari ini pada umumnya menyelisihi syariat Islam yang dibawa Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Segala macam ritual ibadah yang tidak dicontohkan bahkan dilarang oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru mereka lakukan di sisi kuburan dengan penuh kesungguhan, seperti tawassul dengan penghuni kuburan, beristighotsah, berdo’a dengan penuh khusyu’, bernadzar, membaca al Qur’an, sholat, berdzikir, mengusap, mencium, atau menempelkan baju atau anggota tubuh ke batu nisan, i’tikaf, membawa bunga, dan berbagai macam ritual lainnya.

Semua ritual di atas adalah pintu lebar menuju kesyirikan. Hal ini dikarenakan ritual-ritual tersebut merupakan penyelisihan syariat. Perbuatan seperti inilah yang menyebabkan tergelincirnya kaum nabi Nuh.

Dalam Islam, syirik merupakan dosa besar yang tidak diampuni Alloh Subhanahu wa Ta’ala jika ia meninggal dan tidak bertaubat. Pelakunya akan masuk kedalam neraka dan kekal selamanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, Maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. al Maidah [5]: 72)

Ritual yang mereka lakukan itu tidak ada nilainya di mata Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bahkan akibat dari perbuatan tersebut, ibadah dan amal sholeh lain yang pernah dilakukan sebelumnya bisa terhapus. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az Zumar [39]: 65).

Oleh karena itu, jika ingin berziarah kubur maka jauhilah semua ritual dan perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, agar ibadah ibadah kita berpahala disisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. (Admin)

Kunjungi Pula Blog Kami di sini

Semoga shalawat dan salam sejahtera

tercurah atas Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa Sallam,

keluarga dan para sahabatnya

 

 

 

.:: Wallahu Ta’ala ‘Alam ::.

Dipublikasi di ziarah kubur | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar